Komponen Utama Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Sebagian besar pembangkit listrik menggunakan sumber daya alam terbatas seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang suatu saat cadangannya bisa habis. Disisi lain kebutuhan listrik terus meningkat, untuk itu diperlukan adanya alternatif sumber energi. Transisi energi menuju energi baru terbarukan atau EBT saat ini terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Dalam rangka mendukung percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Pemerintah terus mendorong dan mengapresiasi pelaksanaan berbagai program akselerasi agar porsi EBT mencapai target 23% pada bauran energi nasional tahun 2025 dan terpenuhinya target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Salah satunya adalah program pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap secara masif baik pada sektor rumah tangga, ekowisata, sektor industri maupun bangunan komersial dan sosial.

PLTS merupakan sumber energi terbarukan, karena sumber energi ini menggunakan energi matahari yang tidak terbatas dan diperbarui terus-menerus secara alami oleh alam. Matahari adalah sumber energi cahaya yang dapat dimanfaatkan langsung atau dapat juga diubah menjadi bentuk energi lain, seperti energi panas dan energi listrik. Energi cahaya matahari dapat diubah menjadi energi panas dengan menggunakan teknologi "surya termal", alat perubahnya disebut "kolektor surya/panas" sedangkan untuk mengubah cahaya matahari menjadi listrik, digunakan teknologi "photovoltaic", nama alatnya adalah "sel surya" atau lebih dikenal dengan istilah "modul surya".

Cahaya matahari ini memiliki partikel-partikel energi yang disebut "foton". Saat cahaya matahari mengenai sel surya, energi foton ini akan membangkitkan elektron-elektron yang ada dalam material sel surya tersebut sehingga menghasilkan tegangan (voltase) listrik.

Walaupun pagi/sore, mendung atau hujan, selama masih ada cahaya matahari (tidak gelap) maka sel surya tetap akan dapat menghasilkan listrik, meski jumlahnya lebih sedikit dibandingkan saat siang terik atau kondisi cerah.

Dilansir dari e-smart Kementerian ESDM bahwa energi cahaya matahari yang diterima suatu permukaan di bumi adalah sekitar 1.000W/m2. Artinya, setiap lokasi seluas 1 m2 berpotensi menghasilkan energi listrik tenaga surya sebanyak 160-200W. Berikut ini adalah komponen-komponen yang digunakan dalam sistem PLTS: 

***