Proses perencanaan keuangan yang tepat tentu mempengaruhi psikologi keuangan seseorang. Psikologi keuangan adalah studi yang mempelajari tentang bagaimana faktor psikologis mempengaruhi perilaku atau kebiasaan seseorang dalam mengelola keuangan. Misalkan dalam mengelola keuangan pribadi apakah seseorang lebih cenderung boros atau bijak dan pandai menabung. Faktor psikologis seperti emosi, kognisi, dan pola pikir dapat mempengaruhi respon dan keputusan finansial. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi dalam psikologi keuangan:
Bias Kognitif
Seperti pilihan investasi yang salah, pengeluaran yang berlebihan dibandingkan pemasukan, dan penumpukan utang. Bias kognitif biasa terjadi karena alam bawah sadar salah dalam berpikir, sehingga menimbulkan kesalahan dalam memproses dan menafsirkan.
Emosi dan Pengambilan Keputusan
Emosi dan Pengambilan Keputusan
Emosi seperti ketakutan atau keserakahan dapat mempengaruhi keputusan investasi dan pengelolaan uang. Misalnya, ketakutan akan kerugian risiko investasi, kemudian keserakahan bisa berdampak pada risiko berlebihan.
Persepsi Risiko
Persepsi Risiko
Persepsi terhadap pandangan risiko yang bisa berbeda jauh dari risiko yang sebenarnya. Misalkan risiko dalam keputusan berinvestasi, berhutang, dan mengelola aset.
Gaya Hidup dan Identitas
Gaya Hidup dan Identitas
Gaya hidup yang dipilih dapat mempengaruhi keputusan keuangan seseorang. Contoh, seseorang yang sangat berorientasi pada status sosial yang tinggi lebih cenderung menghabiskan uang untuk barang-barang mewah.
Kebiasaan dan Rutinitas
Kebiasaan sehari-hari seperti menabung, atau perencanaan anggaran dapat dipengaruhi oleh pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk sejak dini.
Perencanaan Keuangan dan Tujuan
Kebiasaan dan Rutinitas
Kebiasaan sehari-hari seperti menabung, atau perencanaan anggaran dapat dipengaruhi oleh pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk sejak dini.
Perencanaan Keuangan dan Tujuan
Menentukan perencanaan keuangan yang tepat, disiplin dan sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai. Misalkan menabung untuk tujuan beli rumah atau yang lain.
Secara umum, psikologi keuangan manusia seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional, kognitif, dan sosial yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak rasional. Memahami faktor-faktor ini bisa membantu seseorang dalam membuat keputusan keuangan yang lebih baik dan terukur. Berikut beberapa pengertian psikologi keuangan menurut para ahli:
Daniel Kahneman
Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow," Kahneman, seorang pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, membahas dua sistem berpikir: sistem cepat (intuitif dan emosional) dan sistem lambat (rasional dan logis). Dia menjelaskan bagaimana bias kognitif seperti bias konfirmasi dan overconfidence mempengaruhi keputusan keuangan. Kahneman juga menguraikan konsep "kerugian aversi," di mana kerugian dirasakan lebih menyakitkan daripada keuntungan yang dirasakan menyenangkan.
Michael Lewis
Dalam bukunya "The Big Short," menjelaskan bagaimana psikologi keuangan dan perilaku investor berperan dalam krisis keuangan global 2008. Dia menunjukkan bagaimana kepercayaan diri berlebihan dan penilaian yang buruk dapat mempengaruhi pasar dan menyebabkan keruntuhan finansial.
Richard Thaler
Thaler memperkenalkan konsep "nudge theory" atau dorongan lembut yang mempengaruhi keputusan tanpa memaksa. Contohnya adalah merancang opsi pensiun default yang mendorong orang untuk menabung lebih banyak tanpa memaksa mereka secara langsung.
Gerd Gigerenzer
Konsep Heuristik dan Bias diperkenalkan oleh Gigerenzer tentang bagaimana orang menggunakan aturan praktis atau heuristik dalam pengambilan keputusan keuangan, seringkali tanpa menyadari bias yang mungkin mereka bawa. Misalnya, heuristik "ketersediaan" berarti seseorang mungkin mempercayai informasi yang mudah diingat meskipun informasi tersebut tidak selalu akurat.
Meir Statman
Behavioral Finance dikemukakan oleh Statman, mengkaji tentang bagaimana perilaku manusia mempengaruhi pasar keuangan dan investasi. Dia mempelajari fenomena seperti overconfidence, herd behavior (perilaku mengikuti massa), dan bagaimana emosi mempengaruhi keputusan investasi.
James Montier
Montier meneliti tentang bagaimana bias psikologis seperti optimisme berlebihan dan kecenderungan untuk mencari konfirmasi dapat mempengaruhi keputusan investasi dan menyebabkan kesalahan dalam strategi investasi.
Barberis dan Thaler
Mereka mengkaji tentang Mental Accounting yaitu bagaimana orang membagi uang ke dalam "akun mental" yang berbeda, yang sering kali mengarah pada keputusan keuangan yang tidak rasional, seperti menganggap uang dari bonus berbeda dengan uang dari gaji reguler.
David Laibson
Hyperbolic Discounting yang dikemukakan oleh Laibson mempelajari tentang bagaimana orang cenderung memberi bobot lebih pada keuntungan jangka pendek daripada jangka panjang, yang sering kali mengarah pada masalah seperti kurangnya tabungan untuk pensiun.
****
Secara umum, psikologi keuangan manusia seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor emosional, kognitif, dan sosial yang dapat mengarah pada perilaku yang tidak rasional. Memahami faktor-faktor ini bisa membantu seseorang dalam membuat keputusan keuangan yang lebih baik dan terukur. Berikut beberapa pengertian psikologi keuangan menurut para ahli:
Daniel Kahneman
Dalam bukunya "Thinking, Fast and Slow," Kahneman, seorang pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, membahas dua sistem berpikir: sistem cepat (intuitif dan emosional) dan sistem lambat (rasional dan logis). Dia menjelaskan bagaimana bias kognitif seperti bias konfirmasi dan overconfidence mempengaruhi keputusan keuangan. Kahneman juga menguraikan konsep "kerugian aversi," di mana kerugian dirasakan lebih menyakitkan daripada keuntungan yang dirasakan menyenangkan.
Michael Lewis
Dalam bukunya "The Big Short," menjelaskan bagaimana psikologi keuangan dan perilaku investor berperan dalam krisis keuangan global 2008. Dia menunjukkan bagaimana kepercayaan diri berlebihan dan penilaian yang buruk dapat mempengaruhi pasar dan menyebabkan keruntuhan finansial.
Richard Thaler
Thaler memperkenalkan konsep "nudge theory" atau dorongan lembut yang mempengaruhi keputusan tanpa memaksa. Contohnya adalah merancang opsi pensiun default yang mendorong orang untuk menabung lebih banyak tanpa memaksa mereka secara langsung.
Gerd Gigerenzer
Konsep Heuristik dan Bias diperkenalkan oleh Gigerenzer tentang bagaimana orang menggunakan aturan praktis atau heuristik dalam pengambilan keputusan keuangan, seringkali tanpa menyadari bias yang mungkin mereka bawa. Misalnya, heuristik "ketersediaan" berarti seseorang mungkin mempercayai informasi yang mudah diingat meskipun informasi tersebut tidak selalu akurat.
Meir Statman
Behavioral Finance dikemukakan oleh Statman, mengkaji tentang bagaimana perilaku manusia mempengaruhi pasar keuangan dan investasi. Dia mempelajari fenomena seperti overconfidence, herd behavior (perilaku mengikuti massa), dan bagaimana emosi mempengaruhi keputusan investasi.
James Montier
Montier meneliti tentang bagaimana bias psikologis seperti optimisme berlebihan dan kecenderungan untuk mencari konfirmasi dapat mempengaruhi keputusan investasi dan menyebabkan kesalahan dalam strategi investasi.
Barberis dan Thaler
Mereka mengkaji tentang Mental Accounting yaitu bagaimana orang membagi uang ke dalam "akun mental" yang berbeda, yang sering kali mengarah pada keputusan keuangan yang tidak rasional, seperti menganggap uang dari bonus berbeda dengan uang dari gaji reguler.
David Laibson
Hyperbolic Discounting yang dikemukakan oleh Laibson mempelajari tentang bagaimana orang cenderung memberi bobot lebih pada keuntungan jangka pendek daripada jangka panjang, yang sering kali mengarah pada masalah seperti kurangnya tabungan untuk pensiun.
****
